Byadabisme
by Khafidhu Robi
Kamis, 30 Juli 2026
Mencoba mengajak seekor angsa berdansa di pinggiran ibu kota mungkin terdengar lebih masuk akal daripada menjelaskan apa itu byadabisme. Sebab semakin dijelaskan secara lurus, semakin besar kemungkinan maknanya justru hilang. Byadabisme tidak lahir untuk dipahami melalui definisi, melainkan melalui cara seseorang memandang sebuah kalimat.
Byadabisme bukanlah kumpulan kata-kata yang sengaja dibuat aneh agar terlihat berbeda. Absurditas hanyalah pintu masuk. Di baliknya selalu ada refleksi, kritik, atau cara pandang yang sengaja disembunyikan. Ketika seseorang membaca tentang jerapah yang dimasukkan ke dalam saku, ia sebenarnya tidak sedang diminta membayangkan ukuran saku yang lebih besar. Ia sedang diajak menyadari bahwa manusia sering kali menghabiskan hidupnya memikirkan hal yang mustahil, sementara hal yang benar-benar penting justru terus ditunda.
Di dalam byadabisme, logika tidak pernah ditolak. Logika hanya dipindahkan ke tempat yang tidak biasa. Seekor angsa tidak benar-benar berdansa. Matahari tidak benar-benar bisa dimasukkan ke dalam tas. Namun manusia benar-benar bisa mengorbankan kebahagiaannya demi pengakuan, menunda hidupnya demi kesuksesan, atau membohongi dirinya sendiri demi terlihat baik-baik saja. Dibandingkan semua itu, berdansa bersama seekor angsa justru terasa lebih sederhana.
Karena itu, absurditas bukanlah tujuan, melainkan umpan. Pembaca dibiarkan tersenyum karena kalimat pertama, lalu perlahan berhenti tersenyum ketika menyadari bahwa kalimat terakhir ternyata sedang membicarakan dirinya sendiri. Semakin aneh pembukanya, semakin dekat refleksinya dengan kenyataan.
Byadabisme juga bukan tentang menjadi berbeda demi terlihat unik. Ia adalah cara mengembalikan rasa heran kepada sesuatu yang terlalu sering dianggap biasa. Sebab ketika manusia sudah berhenti mempertanyakan kebiasaannya, terkadang dibutuhkan seekor angsa, seekor jerapah, atau secangkir kopi yang mengajak berbicara agar ia kembali melihat hidup dari sudut yang berbeda.
Pada akhirnya, byadabisme adalah cara menyampaikan kenyataan melalui sesuatu yang mustahil. Bukan karena kenyataan terlalu sulit dijelaskan, melainkan karena manusia sering kali baru mau mendengarkan ketika kenyataan datang dengan cara yang tidak biasa. Mungkin itulah alasan mengapa seekor angsa bisa berdansa, jerapah bisa masuk ke dalam saku, dan sebuah kalimat yang terdengar paling tidak masuk akal justru mampu menjadi penjelasan yang paling masuk akal.