Gugatan Cinta di Balik Tembok Pesantren: Resensi Novel "Hubbu" Karya Ahmad Manshuri

author

by lantifa

Rabu, 24 Juni 2026

Novel berlatar belakang pesantren terjebak dalam romantisasi kehidupan santri yang serba lurus atau sekadar drama cinta terselubung, Hubbu karya Ahmad Manshuri justru melompat jauh ke wilayah yang berani. Novel ini menolak tampil manis. Manshuri dengan sangat telanjang membuka sekat-sekat tabu di dunia pesantren mulai dari represi hasrat seksual, feodalisme ketaatan, hingga benturan syariat dan hakikat. Lewat novel ini, kita tidak diajak untuk mengagumi agama dari kulit luar yang tampak suci, melainkan dipaksa melihat bagaimana manusia-manusia di dalamnya berdarah-darah mendefinisikan ulang apa itu iman, kemanusiaan, dan cinta (hubbu) yang sesungguhnya.

Judul buku "Hubbu"
Penulis "Manshuri"
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Agustus 2007
Tebal Buku: 237-246 halaman
Penghargaan: Pemenang pertama sayembara penulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006

Novel berlatar belakang pesantren terjebak dalam romantisasi kehidupan santri yang serba lurus atau sekadar drama cinta terselubung, Hubbu karya Ahmad Manshuri justru melompat jauh ke wilayah yang berani. Novel ini menolak tampil manis. Manshuri dengan sangat telanjang membuka sekat-sekat tabu di dunia pesantren mulai dari represi hasrat seksual, feodalisme ketaatan, hingga benturan syariat dan hakikat. Lewat novel ini, kita tidak diajak untuk mengagumi agama dari kulit luar yang tampak suci, melainkan dipaksa melihat bagaimana manusia-manusia di dalamnya berdarah-darah mendefinisikan ulang apa itu iman, kemanusiaan, dan cinta (hubbu) yang sesungguhnya.

Cerita dalam Hubbu berpusat pada kehidupan di dalam sebuah pesantren. Fokus utamanya menyoroti perjalanan para santri dan kyai yang tidak hanya bergelut dengan hafalan kitab suci dan hukum fikih, tetapi juga dengan realitas kemanusiaan yang kompleks. Alurnya bergerak mengeksplorasi konflik-konflik sensitif yang jarang dibuka ke publik. Mulai dari pergulatan batin para santri dalam memaknai otoritas kyai, tabunya hasrat seksual dan romansa di lingkungan pesantren yang ketat, hingga benturan antara formalisme agama dengan substansi "cinta" (hubbu) yang sesungguhnya. Tokoh-tokoh di dalamnya diposisikan dalam situasi-situasi dilematis yang menguji batas antara ketaatan dogma dan kebenaran nurani.

Daya tarik utama dari alur novel ini adalah keberaniannya dalam mendobrak tabu secara jujur. Manshuri tidak menampilkan dunia pesantren yang serba utopis dan tanpa cela. Alurnya memikat karena bergerak di area abu-abu; pembaca diajak melihat sisi manusiawi dari kehidupan kaum sarungan lengkap dengan nafsu, keraguan, dan konflik kekuasaan internal. Gaya penceritaannya mengalir dengan nuansa lokalitas pesantren yang sangat kental, namun dibenturkan dengan pemikiran-pemikiran sufistik dan filosofis yang mendalam. Hal ini membuat setiap babnya terasa intens dan memicu rasa penasaran.