Ketika Dongeng Nusantara Naik Kelas: Inovasi PANCARA Jawab Krisis Literasi Lewat Game Edukasi >

author

by Laila Kamilia

Minggu, 09 Agustus 2026

Menghidupkan Kembali Dongeng yang Nyaris Tenggelam

Di tengah gempuran gawai dan konten digital instan, kekayaan budaya lokal berupa dongeng Nusantara perlahan mulai terpinggirkan dari ruang kelas sekolah dasar. Padahal, cerita rakyat bukan sekadar pengantar tidur, melainkan instrumen ampuh untuk menanamkan budi pekerti serta mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi anak. Tantangan ini dirasakan betul di SDN Gondangwetan II, Kabupaten Pasuruan, di mana keterbatasan akses bacaan akibat tidak beroperasinya perpustakaan membuat 90% siswa kurang terbiasa mengeksplorasi teks naratif.

Melihat keresahan tersebut, sebuah langkah kreatif lahir dari tangan dingin mahasiswa Universitas PGRI Wiranegara (Uniwara). Dipimpin oleh Laila Kamilia bersama dua anggotanya, Nur Rizqy Hidayati dan Ridho Abdee Nugraha, serta didampingi oleh dosen pembimbing Dr. Mardiningsih, M.Pd., mereka menciptakan terobosan bernama PANCARA (Papan Baca-Wicara).

Kawinkan Konsep Monopoli Klasik dengan Teknologi Digital

Alih-alih menggunakan metode ceramah yang konvensional, PANCARA mengubah cara belajar bahasa Indonesia menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Tim mengadaptasi papan permainan Monopoli berukuran raksasa 3 \times 3 meter yang dipadukan secara tematik dengan potongan fragmen dongeng Nusantara.

Setiap kali siswa melangkah di atas petak permainan, mereka diwajibkan membaca penggalan cerita rakyat untuk menguji pemahaman evaluatif dan kreatif mereka. Tidak berhenti di situ, kartu tantangan wicara dan gema suara memaksa mereka melatih artikulasi, memperkaya kosakata, serta menceritakan kembali isi cerita secara spontan di depan teman-temannya. Segala progres perkembangan individu ini dicatat secara transparan melalui Buku Rapor PANCARA.

Hebatnya lagi, inovasi ini tidak hanya berhenti pada media fisik. Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tim juga merancang web-game interaktif agar para siswa dapat memperkuat materi secara mandiri di rumah, serta mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya tersebut. Kolaborasi antara pelestarian budaya lokal, dunia permainan edukatif, dan sentuhan teknologi ini membuktikan bahwa literasi bisa diciptakan dengan cara yang seru, kreatif, dan berdampak nyata bagi masa depan pendidikan di daerah.