Resensi Novel "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati''

author

by Zahra Ardilawati

Rabu, 24 Juni 2026

Identitas Buku

Judul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Penulis Brian Khrisna

Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Tahun Terbit 2025

Tebal vi + 210 halaman

ISBN 978-602-05-3132-8

 

Sinopsis: 'Sebelum Mati, Saya Mau Makan Dulu'

Cerita berpusat pada Ale, pria berusia 37 tahun berpostur besar (138 kg, 189 cm), berkulit gelap, dan punya masalah dengan bau badan. Sejak kecil ia jadi bulan-bulanan perundungan karena penampilannya, bahkan keluarganya sendiri tidak pernah jadi tempatnya berlabuh. Alhasil, Ale tumbuh menjadi pribadi yang sangat kesepian dan didiagnosis menderita depresi akut.

Hari itu adalah malam ulang tahunnya yang ke-37, dan Ale sudah bulatkan tekad untuk bunuh diri dengan menenggak semua obat antidepresannya sekaligus. Tapi ada satu masalah kecil: aturan minum obat itu mengharuskan ia makan terlebih dahulu. Jadilah, Ale memutuskan untuk menutup hidupnya dengan seporsi mie ayam langganan favoritnya.

Namun rencana itu gagal total begitu ia sampai dan mendapati warung mie ayam itu tutup karena pemiliknya baru saja meninggal. Ale pun terseret dalam sebuah perjalanan selama 24 jam yang penuh liku—dari dijebak sebagai pemakai narkoba oleh teman kantor sendiri, bertemu preman bernama Murad yang justru membuatnya merasa “dimanusiakan” untuk pertama kalinya, hingga dipertemukan dengan Pak Jipren, seorang tunanetra yang membuka mata Ale lewat satu kalimat sederhana namun menusuk: “Mas itu bukan ingin mati. Mas hanya ingin rasa sakit itu berhenti, bukan?”. Setiap pertemuan kecil ini perlahan membongkar fondasi keputusasaan Ale dan mengajaknya melihat bahwa mungkin—sekecil apa pun—selalu ada alasan untuk bertahan.

 

Analisis: 'Gaya, Tema, dan Pesan Kemanusiaan'

Brian Khrisna meracik kisah berat dengan gaya bahasa yang ringan, nyentrik, dan penuh humor-humor gelap yang bikin kita kadang tertawa miris sendiri. Misalnya absurditas Ale yang sangat serius ingin mati tapi juga sangat serius membersihkan apartemennya sampai wangi—“Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang”. Kejenakaan semacam ini bikin pembaca tidak merasa “dipaksa” untuk tenggelam dalam kesedihan, tapi justru diajak mengamati dengan jarak yang aman.

Uniknya, riset di balik kisah ini cukup matang. Brian tidak hanya menulis berdasarkan imajinasi, tetapi melakukan wawancara mendalam dengan tiga penderita depresi, seorang psikiater, dan seorang dosen psikologi. Bahkan setelah naskah rampung, ia kembali berkonsultasi dengan para ahli untuk memastikan tidak ada konten yang memicu (trigger) bagi penderita depresi. Pendekatan ini menunjukkan tanggung jawab etis penulis dalam mengangkat isu yang sensitif.

Dari sisi tema, novel ini mengusung pertanyaan-pertanyaan eksistensial ala filsafat memento mori (ingatlah pada kematian): “Apa yang benar-benar berarti dalam hidup jika aku tahu waktuku hanya tinggal sedikit?”. Tapi ia tidak menjawab dengan teori-teori filosofis yang berat, melainkan dengan simbol yang sangat membumi: semangkuk mie ayam. Rasa hangat, kenangan masa kecil, dan kehangatan warung pinggir jalan menjadi alegori yang kuat tentang alasan paling sederhana sekalipun untuk tetap hidup.

Lebih dalam lagi, novel ini bisa dibaca sebagai kritik sosial terhadap masyarakat modern yang serba dingin dan individualistis. Ale bukan sekadar “orang depresi”, ia adalah cerminan dari mereka yang termarjinalkan hanya karena tidak sesuai dengan standar kecantikan dan normalitas sosial. Namun, ironisnya, lingkungan yang paling bisa menerima Ale adalah dunia preman dan malam—tempat yang secara moral “abu-abu”, tapi secara kemanusiaan justru lebih hangat daripada keluarga dan rekan kerjanya sendiri. Ada pesan getir di sini: bahwa perasaan “dimanusiakan” bisa hadir dari tempat yang paling tidak kita duga.

 

Kelebihan: 'Buku yang Hangat meski Menguliti'

1. Relatable & Manusiawi.

Dari deskripsi fisik Ale yang “tidak sempurna” sampai gejolak batinnya yang dipenuhi keraguan, ia adalah karakter yang terasa nyata. Kita mungkin tidak separah Ale, tapi kita pasti pernah merasa tidak dianggap, merasa kesepian di keramaian, atau mempertanyakan apa gunanya semua ini.

2. Sederhana Tapi Sarat Makna.

Meski bisa dibaca dalam sekali duduk karena bahasanya yang santai dan mengalir, kalimat-kalimatnya tetap membekas. Kutipan seperti “Kadang, yang menyelamatkan kita bukan nasihat, tapi semangkuk mi ayam hangat” mampu membuat pembaca berhenti sejenak dan merenung.

3. Menyentuh Isu Kesehatan Mental dengan Bijak.

Alih-alih meromantisasi atau menjadikan bunuh diri sebagai “pahlawan tragis”, Brian menunjukkan luka dengan jujur namun penuh empati. Dialog antara Ale dan Pak Jipren menjadi momen klimaks yang menyadarkan bahwa keinginan untuk mati sering kali adalah keinginan agar rasa sakit—bukan hidup itu sendiri—berakhir.

4. Riset yang Kuat dan Penanganan yang Bertanggung Jawab.

Proses kreatif yang melibatkan psikiater dan penderita depresi nyata memastikan bahwa novel ini tidak melukiskan kesehatan mental secara karikatural, sehingga aman dan edukatif bagi pembaca.

                      

Kekurangan: 'Beberapa Adegan yang Terasa “Dikarbit”

Meski kuat secara emosi, novel ini tidak sepenuhnya mulus. Beberapa kelemahan cukup terasa:

  1. Karakter Pendukung Kurang Tergali Secara Mendalam.

            Tokoh-tokoh seperti Murad, Juleha, atau Pak Uju sering kali terasa seperti “alat plot” yang hadir semata-mata untuk menyuntikkan satu pesan motivasi ke Ale, bukan sebagai karakter yang utuh dengan konfliknya sendiri.

  1. Dialog yang Kadang Kaku dan Terlalu “Menggurui”.

          Alih-alih terasa alami, beberapa dialog justru terdengar seperti slogan motivasi yang dipaksakan. Pendekatan telling yang dominan membuat novel sesekali kehilangan kedalaman emosional yang seharusnya bisa lebih kuat jika ditampilkan secara lebih halus melalui aksi atau gestur karakter.

  1. Repetisi Alur di Bagian Tengah.

          Beberapa adegan—pertemuan dengan karakter A lalu B lalu C—terasa sedikit berulang dan memperpanjang durasi tanpa memberikan perkembangan konflik yang signifikan.

 

Kesimpulan: Layak Dibaca, Layak Direnungkan

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan novel yang sempurna, tapi ia adalah novel yang jujur. Brian Khrisna berhasil mengangkat tema berat seputar depresi, keterasingan, dan keinginan untuk mati dengan cara yang hangat, humanis, dan—anehnya—menghibur. Ia menunjukkan bahwa luka paling dalam sekalipun bisa diobati bukan oleh nasihat-nasihat besar, tapi oleh hal-hal yang sangat kecil dan biasa: semangkuk mi ayam, sapaan hangat dari orang yang tak dikenal, atau satu alasan sederhana untuk bangun keesokan pagi.

 Bagi siapa pun yang pernah merasa lelah, merasa tidak cukup baik, atau sekadar ingin membaca sesuatu yang menyentuh tanpa menghakimi, novel ini saya rekomendasikan. Satu catatan penting: jika Anda sedang berjuang dengan pikiran untuk mengakhiri hidup, bacalah sebagai pengingat bahwa selalu ada tempat dan orang (termasuk buku ini) yang bisa jadi titik awal untuk bertahan. Dan jika butuh teman bicara, jangan ragu untuk menghubungi profesional kesehatan jiwa atau Sahabat Teman Lewat (HELP) 119.