Pay To Win lingkup pendidikan : siapa yang kaya dia yang menang!

author

by Abyan Rahman

Sabtu, 30 Mei 2026


Pendidikan sering dijadikan sebagai ajang perlombaan dan persaingan. Tidak hanya di kalangan pelajar, bahkan orang-orang yang telah berusia dewasa pun masih memandang pendidikan sebagai sarana untuk memperoleh keunggulan dibandingkan orang lain, meskipun tidak sefrontal saat masih berada di bangku sekolah.


Dalam kondisi ideal, keberhasilan dalam pendidikan seharusnya ditentukan oleh kecerdasan, kerja keras, dan kemauan untuk belajar. Namun, realitas yang terjadi tidak selalu demikian. Di era sekarang, modal untuk meraih keberhasilan dalam dunia pendidikan bukan hanya kepintaran dan kegigihan. Faktor ekonomi sering kali menjadi penentu yang tidak kalah penting.


Sebagian orang bahkan beranggapan bahwa keberhasilan dalam pendidikan lebih banyak ditentukan oleh akses yang dimiliki seseorang daripada kemampuan akademiknya. Siswa yang berasal dari keluarga mampu dapat mengikuti berbagai bimbingan belajar, kursus tambahan, membeli buku penunjang, hingga memperoleh fasilitas belajar yang jauh lebih baik dibandingkan siswa lainnya. Sementara itu, siswa yang memiliki kemampuan yang sama belum tentu memiliki kesempatan yang setara.


Permasalahan ini menjadi semakin serius ketika muncul dugaan bahwa beberapa pihak memperoleh keuntungan yang seharusnya tidak dimiliki peserta didik lain. Di lingkungan pendidikan yang saya amati, terdapat anggapan bahwa sebagian lembaga bimbingan belajar memiliki akses terhadap informasi yang tidak dapat diperoleh oleh siswa pada umumnya. Ketika informasi yang seharusnya bersifat rahasia hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu, maka keadilan dalam pendidikan mulai dipertanyakan.


Akibatnya, muncul persepsi bahwa pendidikan telah bergeser dari arena pengembangan kemampuan menjadi arena persaingan sumber daya. Siswa yang memiliki akses lebih besar akan lebih mudah memperoleh hasil yang baik, sedangkan siswa lain harus berjuang lebih keras untuk mencapai posisi yang sama. Dalam situasi seperti ini, kerja keras dan kecerdasan sering kali dianggap tidak cukup tanpa dukungan ekonomi yang memadai.


Tentu saja tidak semua keberhasilan dapat dibeli dengan uang. Masih banyak siswa yang berhasil meraih prestasi melalui usaha dan ketekunan mereka. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ketimpangan akses telah menciptakan jurang yang membuat sebagian peserta didik harus berlari lebih jauh dibandingkan yang lain untuk mencapai garis yang sama.


Pada akhirnya, pendidikan seharusnya menjadi sarana untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi setiap orang, bukan memperlebar kesenjangan yang sudah ada. Jika faktor ekonomi terus menjadi penentu utama dalam memperoleh keuntungan pendidikan, maka muncul pertanyaan yang perlu direnungkan bersama: apakah pendidikan masih menjadi hak bagi semua orang, atau perlahan berubah menjadi kemewahan bagi mereka yang mampu?