Neuro and Feromon

author

by Daru Iman

Senin, 25 Mei 2026

Ketika Kirana Melintas di Altar Logika


I. Arsitek di Balik Dinding Kaca

33 kali Genta merayakan hari lahir, Genta merasa telah selesai dengan urusan duniawi yang bernama ketidakpastian. Ia adalah personifikasi dari sebuah bangunan berarsitektur modern, kokoh, simetris, dan dibangun di atas fondas fondasi analisis teoritis yang dingin. Baginya, hidup adalah rangkaian sebab-akibat yang bisa diprediksi. Pahit, asam, dan manisnya masa lalu bukan lagi luka atau tawa, melainkan sekadar variabel data yang telah berhasil ia petakan, ia jinakkan, dan ia simpan rapi di dalam laci-laci logikanya. Ia percaya, benteng rasionalitasnya telah kedap terhadap badai. Namun, ketenangan hanyalah sebuah jeda sebelum badai baru menemukan bentuknya. Di satu malam yang teramat hening, ketika angin kota enggan berdesir, dua sosok tak kasat mata mengetuk pintu kesadarannya tanpa permisi: Neuro dan Feromon.
Genta mengenali ketukan itu. Itu adalah ketukan yang sama dengan yang ia dengar dua puluh satu tahun lalu, saat jemarinya masih terlampau kecil untuk menggenggam takdir ketika ia baru berusia dua belas. Neuro dan Feromon adalah arsitek rasa, duo entitas purba yang bertugas memanipulasi sinapsis, mengalirkan dopamin, dan meletupkan detak dada yang tak terkendali. Tiap kali mereka bertamu, Genta kecil selalu lumpuh dalam rasa bahagia yang magis. Namun, mereka tidak pernah datang dengan tangan hampa. Mereka selalu menuntun makhluk-makhluk bersayap rapuh untuk singgah di dalam hidup Genta makhluk yang di kemudian hari ia sebut sebagai metafora dari pencarian rasa. Sepanjang tiga dekade usianya, Genta telah menyaksikan tiga kupu-kupu singgah dan mewarnai kanvas hidupnya.

II. Trilogi Sayap yang Telah Usai

Kupu-kupu pertama bernama Meraki. Ia adalah entitas yang sunyi namun menawan, datang dengan bentangan sayap sewarna fajar yang pecah di ufuk timur. Warnanya syahdu, membawa seberkas semangat baru yang belum pernah dikenali oleh jiwa Genta yang masih polos. Meraki adalah letup pertama, sebuah gairah muda yang membakar ketidaktahuan. Namun, sebagaimana hukum alam yang tak bisa ditawar, fajar harus mengalah pada terik yang membakar. Meraki pergi sejauh mata memandang, terbang ke langit kelabu bersamama dengan menguapnya semangat jiwa muda Genta yang naif.
Tahun-tahun berganti, di tengah kegamangan masa muda yang penuh pergulatan mencari jati diri, Neuro dan Feromon kembali mengetuk pintu hati Genta. Kali ini, mereka melepas Dera. Kupu-kupu kedua ini adalah keindahan yang khusyuk. Cara terbangnya begitu cantik, meliuk-liuk bagai pancaran cahaya bintang yang memantul di atas permukaan danau di bawah pelukan rembulan. Kepada Dera, Genta yang sedang berjuang memahat eksistensinya menggantungkan sebuah harapan yang teramat kuat. Dera adalah jangkar di tengah badai pasang. Namun, dunia ini gemar mematahkan harapan yang terlampau tinggi. Dera pergi tanpa sempat berpamitan, lenyap ditelan malam, membawa pergi separuh dari harapan-harapan besar yang sedang dibangun Genta.
Kehilangan demi kehilangan memaksa logika Genta untuk mengeras menjadi semen dan baja. Ia bersumpah tidak akan membiarkan dirinya rapuh oleh kepakan sayap yang fana. Sampai akhirnya, Neuro dan Feromon kembali datang membawa Arunika. Arunika tidak seperti dua pendahulunya. Ia adalah manifestasi dari kesempurnaan yang matang, bagaikan berlian yang telah lolos dari tempaan tekanan bumi yang mahadasyat. Ia kuat, gerakannya presisi, indahnya proporsional, dan ia mandiri. Bersama Arunika, Genta tidak menemukan debar yang melelahkan, melainkan stabilitas yang ia agungkan. Arunika adalah rumah setelah petualangan yang melelahkan. Genta menatap Arunika dan berbisik pada logikanya sendiri, bahwa inilah kupu-kupu terakhir yang akan selalu menemaninya, yang akan setia bertengger di jemarinya hingga kelak giliran raganya yang bersatu kembali dengan tanah. Komitmen itu telah final, dikunci rapat oleh nalar, kenyamanan, dan waktu.

III. Anomali Bernama Kirana

Namun, takdir tidak pernah membaca buku panduan logika manusia.Di saat Genta meyakini bahwa lembar terakhir bukunya telah selesai ditulis bersama Arunika, ruang sunyinya kembali bergetar. Neuro dan Feromon muncul lagi di ambang pintu, bukan untuk mengusik keberadaan Arunika, melainkan hanya untuk melepas satu makhluk lagi ke udara Kirana. Kirana tidak hinggap. Ia hanya melintas sekilas, memotong garis pandang Genta dalam sebuah gerakan yang teramat singkat. Namun, dalam hitungan detik yang sempit itu, seluruh algoritma yang dibangun Genta selama bertahun-tahun runtuh menjadi abu.Ada getaran purba yang bangkit dari dasar jiwanya sebuah frekuensi yang mengacak-acak seluruh rasionalitasnya. Genta terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Kirana adalah sebuah anomali visual dan rasa yang luar biasa indah. Genta mengagumi setiap inci keberadaannya dengan rasa takjub yang mendekati sakral. Warna sayap Kirana bukanlah warna yang bisa dijelaskan oleh spektrum cahaya biasa, warnanya adalah perpaduan antara kemegahan dan keheningan. Setiap ayunan sayapnya memancarkan keanggunan yang absolut, namun sama sekali tidak menyiratkan kelemahan. Ia bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan, namun anehnya, setiap kepakan itu terasa sangat rapi, terukur, dan tertata, seolah gerakannya diatur oleh koreografer surgawi. Menatap Kirana seperti menyaksikan aliran air terjun di pedalaman hutan yang tak tersentuh tangan manusia mengalir begitu deras, menghanyutkan jiwa yang memandangnya, namun ia bergerak dalam keheningan yang magis. Menyenangkan, namun hening seperti air. Mengalir deras, namun tidak mengeluarkan suara gaduh. Ia adalah badai yang tenang.

IV. Batas Suci yang Tak Terseberangi

Genta gamang. Sebuah kegamangan yang belum pernah ia pelajari di buku teori mana pun. Jiwanya ditarik oleh dua kekuatan yang sama besarnya gravitasi bumi tempat Arunika berada, dan daya pikat langit tempat Kirana melintas. Namun, kegamangan Genta bukanlah sebuah keraguan atas apa yang ia rasakan. Hatinya tidak bodoh ia tahu persis bahwa rasa kagum dan ketertarikan ini nyata, sejati, dan mendalam. Yang membuat Genta ragu, yang membuat dadanya sesak oleh rasa sakit yang halus, adalah sebuah kesadaran yang dingin keindahan Kirana bukanlah untuk ia miliki.
Genta menatap telapak tangannya sendiri yang mulai mendingin, lalu menatap siluet Kirana yang kian mengecil di langit senja. Logikanya yang matang segera mengambil alih kendali, memberikan sebuah tamparan realitas yang jujur. Genta tahu diri. Ia tahu seberapa keras pun Neuro di kepalanya bergejolak menciptakan sinapsis baru, seberapa kuat pun Feromon di dalam darahnya menjeritkan rindu, Kirana tidak akan pernah bisa menjadi kupu-kupu yang menghuni tamannya. Ada keindahan di semesta ini yang diciptakan buk an untuk digenggam, melainkan hanya untuk dikagumi dari balik sekat kaca takdir. Kirana adalah milik angin bebas, milik langit yang tak bertepi. Sementara Genta telah menautkan jangkarnya pada tanah.
Dengan dada yang bergemuruh namun ekspresi wajah yang tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa, Genta memilih untuk diam. Ia membiarkan Kirana terbang menjauh, membawa pergi keindahan yang sekadar melintas itu ke dalam ruang memorinya yang paling rahasia. Ia kembali membalikkan badannya, menatap Arunika yang masih setia menanti di jemarinya sebuah realitas yang nyata, di tengah sisa-sisa keharuman Kirana yang perlahan menguap dibawa angin malam.


May 26, Manan-gu, Anyang-si, Gyeonggi-do, Korea selatan.

Note : Kirana, Jangan ilfeel ya, karena tulisannya sok keren 😁 bukan karena pengen keliatan puitis tapi karena tidak ada kata kata gamblang yang mewakilkan keadaan ini.

ketika aku putuskan untuk menunjukan tulisan ini, aku mungkin sudah turun beberapa Kg :D